Tausiyah

Jumat, 28 Mei 2010

PENGARUH PERGAULAN (SAHABAT KARIB CERMINAN DIRI)



Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah Azza Wajalla atas limpahan rahmat dan karunia kepada kita semua. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi besar Muhammad SAW, segenap keluarga dan sahabatnya.

Lingkungan sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian, budi pekerti dan kefahaman agama seseorang, maka di dalam pergaulan supaya berhati-hati jangan sampai salah memilih teman bergaul. Bergaul dengan orang yang sholeh akan membantu kita dalam membentuk pribadi yang baik dan berakhlaqulkarimah, jika kita berbuat kesalahan akan ada yang mengingatkan atau paling tidak kita akan merasa malu untuk berbuat kejelekan/kesalahan karena berada di lingkungan orang yang sholeh. Akan tetapi jika bergaul dengan orang yang tidak sholeh, jangankan dinasehati jika salah, bahkan diajak menuju dan mengerjakan kemaksiatan.

Sabda Rasulullah saw. dalam Al-Hadits shoheh Al-Bukhari yang diriwayatkan dari Abi Musa: “Perumpamaan teman bergaul yang sholeh dan teman bergaul yang jelak adalah sebagaimana penjual minyak wangi dan ubupan (perapian) pande besi. Penjual minyak wangi tidak akan melewati padamu, adakalanya kamu akan membeli minyak wangi itu darinya atau (paling tidak) kamu akan mendapatkan bau wanginya. Dan (sedangkan) pande besi akan membakar badanmu atau pakaianmu atau (paling tidak) akan kamu dapatkan bau sengitnya”.

Menentukan teman bergaul sangat penting, karena sebagian waktu kita berada di sisi teman pergaulan kita, sedangkan manusia ada kelemahan yaitu cenderung mengiukuti hawa nafsunya untuk berbuat pelanggaran (kemasiatan) dari pada mengikuti hal-hal yang baik. Bergaulah dengan orang –orang yang sholeh (faham agama), karena bergaul dengan orang sholeh sebagain waktu kita akan banyak disibukkan dengan hal-hal yang baik, mengurangi waktu untuk “lahwun” (perbuatan yang sia-sia) dan melanggar norma agama/ norma susila, bahkan kalau ada kesempatan kita bisa belajar ilmu kepadanya.

Usahakan untuk selalu bergaul dengan ulama, orang yang sholeh, dan orang yang fakih dalam agama, sebab setipis-tipisnya keimanan dan kefahaman seseorang jika teman bergaulnya orang-orang yang sholeh (fakih dalam agama), sedikit demi sedikit akan meningkat keimanannya dan kefahaman agamanya.

Sabda Rasulullah saw., dalam Hadits Sunan Abu Dawud yang diriwayatkan dari Abi Hurairah: “ Arrajulu ‘ala diini kholiilihi falyandhur ahadukum man yukhalilu” artinya: “ Seorang laki-laki itu menetapi kebiasaan teman dekatnya, maka hendaklah ia melihat siapa yang menjadi teman dekatnya”

Hadits tersebut di atas dapat menjadi rujukan bagi orang tua dalam mendidik anaknya, untuk mengetahui/ mengontral anaknya apakah anaknya itu berprilaku baik atau berprilaku tidak baik, dengan melihat teman dekat (karib)nya. Apabila anaknya bergaul dengan orang –orang yang tidak baik segera orang tuanya membatasi pergaulan anaknya dan mengarahkan supaya bergaul dengan orang-orang yang sholeh.

Dalam hal mencari pasangan hidup (jodoh), Hadits ini dapat dijadikan rujukan, untuk mengetahui watak/perilaku, kefahaman agama dan kesholehan calon pasangan hidupnya, dapat dilihat dari teman dekatnya atau mencari informasi dari teman dekatnya, jangan sampai salah pilih, jangan menjadi penyesalan di kemuadian hari. Orang berpacaran itu banyak melakukan kamuflase(ecak-ecak), yang tadinya kasar dihadapan pacarnya seolah menjadi lembut hanya untuk menarik lawan jenisnya, yang tadinya pelit seolah-olah jadi orang yang dermawan karena mengharapkan simpati pacarnya. Berumah tangga bukan untuk sehari – dua hari, diusahakan sampai akhir hayat kita masing-masing.

Nasehat Luqman kepada anaknya:” Wahai anakku temanilah duduk ulama’ dan desaklah mereka dengan kedua lututmu (selalu mendekat untuk meraih ilmu dari mereka) karena sesungguhnya Allah akan menghidupkan hati dengan cahaya hikmah (yang diperoleh dengan ilmu dari ulama’) sebagaimana Allah menghidupkan kembali bumi yang kering sebab turunnya hujan dari langit.”

Menyuruh anak agar mau dan senang bergaul dengan orang yang sholeh bukannya gampang, karena hati manusia akan cenderung berkumpul dengan hati yang sama sifat dan kelakuannya.

Oleh karena itu untuk memulai agar anak kita mau dan senang bergaul dengan orang yang sholeh harus difahamkan agamanya, yaitu belajar agama, belajar ngaji ilmu Al-qur’an dan Al-Hadits, baik di masjid suarau, musholla maupun di rumah tangga- rumah tangga dengan mendatangkan guru ngaji (ustadz/ustadzah).

Perhatikan Sabda Rasulullah saw.: “ Al-arwaahu junuudun mujannadatun, famaa ta’aarofa minha’talafa, wamaa tanaakaro minha ikhtalafa” (HR. Bukhari) artinya:

“ Ruh-ruh (semua hamba) bolo membolo (saling berkumpul) ruh yang saling mengenal (karena kesamaan sifat) akan berkumpul dan ruh yang saling ingkar akan berselisih (berpisah)”.

Berdasarkan Hadits di atas kita tahu bahwa hamba yang berthobiat baik akan berkumpul dan mendekat kepada hamba yang baik, dan sebaliknya hamba yang berthobiat buruk akan berkumpul dan mendekat kepada hamba yang berthobiat buruk pula. Hamba yang berthobiat baik tidak akan bisa tenang berkumpul dengan hamba yang berthobiat buruk.

Mungkinkah orang yang faham agama akan tahan berkumpul bersama dengan orang-orang yang banyak berbuat maksiat, karena mereka adalah orang-orang bodoh agamanya!

Tentu ia akan merasa resah dan gelisah tatkala berada di tengah-tengah mereka, bagaikan sekor ikan yang dipaksa mentas dan hidup di luar kolamnya.

Siapakah teman kita? Dialah yang akan menentukan siapa kita.

Menyadari akan hal ini, Shohabat Abu Tholhah sengaja minta kepada Rasulullah saw. agar anak tirinya yaitu Anas bin Malik diizinkan menemani dan melayani beliau hingga kurun waktu 10 tahun lamanya agar Anas di kemudian hari menjadi seorang yang ‘alim dan berkepribadian sebagaimana Rasulullah saw.

Begitu besar pengaruh pergaulan, semula orang yang faham agama sekalipun akan rusak/hilang kefahamannya apabila hidup dan bergaul di tengah orang yang suka berbuat maksiat, bahkan sedikit demi sedikit kefahamannya akan pudar.

Baik buruknya generasi yang akan datang tergantung dari generasi sekarang ini, bagaimana menyikapi, mendidik anak bangsa ini menjadi yang lebih baik dengan menciptkan lingkungan (komunitas) yang baik. Hal ini dapat dumulai dari unit yang paling kecil yaitu keluarga, masing-masing kepala rumah tangga bertanggung jawab mendidik, mengarahkan pergaulan anak-anaknya kearah pergaulan yang baik. jika setiap rumah tangga sudah dapat mewujudkan pendidikan anak-anaknya menjadi anak yang baik, insya Allah generasi mendatang, anak Indonesia jadi anak yang baik, sesuai dengan harapan Bangsa dan orang tuanya.

Demikian uraian singkat tentang memilih teman bergaul, agar bisa mencari teman orang yang baik, sehingga menjadi anak yang baik budi pekertinya. Alhamdulillah jaza kumullahu khoiran. Amin.

Oleh:

Ir. Amat Sarjono

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)

Kabupaten Lahat.

Rabu, 12 Mei 2010

MENCARI KEBAHAGIAAN (WHAT IS THE HAPPINESS?)





Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah Azza Wajalla atas limpahan rahmat dan karunia kepada kita semua. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi besar Muhammad SAW, segenap keluarga dan sahabatnya. Sebagai orang muslim kita harus memahami dan menyadari bahwa kita adalah manusia yang telah dipilih oleh Allah dijadikan sebagai orang yang beriman dan bertaqwa dijadikan waliyullah, dimulyakan hidup di dunia dan di akhirat, maka kemulyaan ini harus dipertahankan.

Setiap manusia mendambakan kebahagiaan hidup baik di dunia dan di akhirat kelak, sekarang timbul pertanyaan apakah bahagia itu? (what is the happiness ?) Sebagian orang berpendapat apabila telah terpenuhi kebutuhan materi, seperti rumah mewah, mobil mewah dan tabungan di bank banyak, baru akan merasakan kebahagiaan itu. Apa betul dia hidup bahagia? Kalau dia sakit, atau terkena struk apa bisa menikmati kebahagiaan hidup? Sebagian lagi ada yang berpendapat akan merasa bahagia kalau punya istri cantik? Akan bertahan lamakah kecantikan seorang wanita? Bagaimana kalau kita punya istri cantik, kalau ditinggal pergi kerja oleh suaminya sangat menghawatirkan (punya sifat yang kurang terpuji) ? Atau membagi cinta dengan laki-laki lain? Yang pasti kebahagiaan itu akan terusik.

Ada beberapa hal yang menyebabkan kita hidup bahagia diantaranya:

1. Material happiness, kita akan merasa bahagia kalau kebutuhan materi kita terpenuhi, akan tetapi materi itu tidak dapat menjamin seratus persen kita hidup bahagia, kalau kita sakit, materi yang melimpah tidak dapat kita nikmati.
2. Physical happiness, Walupun hidup kita sederhana, kalau diberi nikmat sehat kita bisamerasakan bahagia. Makan dengan lauk seadanya kita masih bisa merasakan nikmatnya anugerah dari Allah tersebut. Dalam Hadits Rasulullah saw., menjelaskan ;”Dua nikmat yang sering dilupakan oleh manusia adalah nikmat sehat dan nikmat sempat”. Oleh karena itu, kita syukuri nikmat Allah tersebut, dengan banyak menyempatkan diri untuk beribadah kepadaNya.
3. Estetical happiness, Setiap manusia suka keindahan, senang punya suami ganteng/ macho, senang punya istri cantik, senang punya rumah bagus, dilengkapi dengan taman yang indah di sekelilingnya. Bahkan seorang istri ingin selalu tampil cantik dengan merias dirinya, dia malu keluar rumah kalau tidak berdandan/berhias, apa lagi kalau mau ke pasar mungkin menghadap cermin berkali-kali. Keindahan/kecantikan inipun belum cukup untuk menjamih hidup bahagia, karena kecantikan tidak akan bertahan lama. Keindahan dan kecantikan akan sempurna apabila dibarengi dengan;
4. Moral happiness, suatu keluarga akan merasa bahagia apabila dalam keluarga tersebut mempunyai budi pekeri yang baik (akhlaqul karimah), lingkungannya orang yang baik, sesuai dengan yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam Al-Hadits;”Ada empat tanda kebahagian seseorang; 1. Apabila istrinya sholihah. 2. Anak-anaknya berbudi pekerti yang baik. 3. Pergaulanya juga orang-orang yang sholeh. 4. rezkinya di dalam negerinya (cari ma’isyah tidak jauh dari rumahnya)
5. Intelectual happiness, Manusia hidup dari kecil selalu mendapat pendidikan baik di rumah, di sekolah, di masjid (TPA), lingkungan dll. Dalam menghadapi ujian, baik ujian semester atau ujian Nasional, kita sibuk mempersiapkan agar kita dapat lulus mendapat nilai yang bagus. Apabila kita lulus kita akan merasa bahagia. Seperti yang dialami pada anak-anak kita yang baru lulus ujian Nasional, banyak yang meluapkan kebahagiaan dengan bermacam-macam cara. Tetapi luapan kabahagiaan itu tidak akan lama, karena setelah itu akan kemana? Dalam kehidupan bermasyarakat apabila kita punya ide/ gagasan bisa diterima di masyarakat, atau kita punya hasil karya dapat dimanfaatkan (berguna) bagi orang lain kita merasakan kebahagiaan, karena kita punya andil dalam kehiduan berbangsa dan bernegara. Dapat menetapi apa yang disabdakan Rasulullah dalam Al-Hadits;”Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang memberikan manfaat bagi orang lain”.
6. Spiritual happiness, kebahagiaan yang hakiki adalah ada dalam hati sanubari oleh karena itu ukuran kebahagiaan seseorang itu relative. Kebahagiaan melalui materi, fisik, kecantikan/keindahan itu hanya sementara. Kebahagiaan yang sesungguhnya di akhirat nanti yaitu di surga. Apabila kita ingin mendapatkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, menetapilah agama yang haq yaitu agama Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, dan memperbanyak doa : ROBBANA ATINA FIDUNYA HASANAH WA FIL-AKHIRATI HASANAH WAQINA ADZABANNAR

Menikah juga merupakan salah satu untuk mewujudkan kebahagiaan. Untuk dapat menggapai kebahagiaan itu, maka nikah itu harus diniati ibadah, bukan hanya semata-mata menyalurkan syahwatnya. Rasulullah menganjurkan agar pernikahan itu barokah, mendapatkan ridho Allah yaitu tertera dalam Al-Hadits ;” Dinikahi wanita itu karena empat; 1. Karena hartanya,

2. Karena keturunannya (nasabnya),

3. Karena kecantikannya,

4. Karena agamanya, maka pilihlah yang baik agamanya (berdasarkan agama), (HR. Abi Dawud)”.

1. Jika nikah berdasarkan harta (material happiness).

Ingat kehidupan manusia itu selalu berubah ubah, kita tidak tahu apakah kehidupan kita akan kaya terus, atau suatu ketika kita diuji oleh Allah dengan kemiskinan, hanya Allah yang tahu. Banyak rumah tangga berantakan karena jatuh miskin, dan banyak juga rumah tangga berantakan karena kekayaan. Seorang suami karena merasa dirinya berkecukupan (kaya) akhirnya jarang pulang, mencari kebahagian semu di luar rumah, pergi ke kafe, klub malam dll. Atau sang istri keturunan orang kaya, atau punya jabatan tinggi akhirnya kurang menghormati suaminya, suaminya dianggap sebagai pembantu rumah tangga, seperti ini juga tidak bahagia.

2. Jika nikah berdasarkan kecantikan (estetical happiness, physical happiness)

Tidak selamanya manusia atu akan sehat terus, muda terus, kuat terus, pasti akan mengalami tua dan lemah, demikian juga dengan kecantikan seseorang, tidak akan bertahan lama, sampai umur 40 tahun sudah mulai mengendur.

3. Jika nikah berdasarkan keturunan/ nasabnya (moral happiness, intellectual happiness)

Tingkatan ini lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya, karena kita bisa mewarisi gen budi pekerti yang baik (akhlaqul karimah) dan gen kecerdasan, sehingga keturunannya jadi anak yang cerdas.

4. Nikah berdasarkan agamanya (spiritual happiness)

Apabila kita nikah berdasarkan agamanya maka kita akan mendapatkan kesemuanya. Dengan menetapi agama Islam yang haq ini kita akan mendapatkan kebahagian hidup di dunia dan di akhirat kelak. Kebahagian dunia hanya sementara, akan tetapi kebahagian akhirat (di surga) itu lebih kekal. Sesuai dengan sabda Rasulullah;” Sungguh beruntung (bahagia) orang yang diberi petunjuk (hidayah) agama Islam, dan diberi rezki yang cukup dan mau menerima (qonaah) dengan rezeki tersebut” (HR. Ibnu Majah)

Orang yang telah diberi hidayah Agama Islam itu ibaratnya seperti orang yang diberi tiket untuk ke surga. Apakah orang tersebut dapat menjaga/mempertahankan tiket tersebut sampai akhir hayatnya? Perlu disadari bahwa semua harta benda yang kita miliki itu adalah titipan/amanah dari Allah, supaya kita bisa menjaga dan menggunakannya sesaui dengan haknya.

Dalam Hadits Rasulullah menelaskan bahwa; “Harta yang kita miliki itu ada tiga; 1. Makanan yang telah kita makan sampai jadi kotoran, 2. Pakaian yang kita pakai sampai rusak, 3. Harta yang kita sodaqohkan di jalan Allah.(akan kita jumpai di akhirat nanti)”.

Rumah, mobil, kebun dan tabungan di bank, itu belum tentu punya kita, karena kalau kita mati, itu semua akan ditinggal, bahkan istri kita yang cantikpun kita tinggalkan, dan bila masih muda dia akan mencari suami lagi, apalagi warisannya banyak (wah enak tuh suami baru ). Oleh karena itu kami ingatkan bagi kaum muslimin jangan sampai kaya di dunia, tetapi miskin di akhirat, karena amal jariahnya sedikit. Marilah kita berlomba membela agama Allah dengan banyak menanam amal jariah, dengan membangun/ memperbaiki masjid, musholla, madrasah, pondok-pondok pesantren dan ibadah lainya.

Demikian uraian singkat ini, apabila ada kekhilafan saya mohon maaf dan kami mohon ampun kepada Allah. Alhamdulillah jaza kumullahu khoira. Amin.

Penulis:

Ir. Amat Sarjono

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kab. Lahat.

BAGAIMANAKAH ISTERI YANG SHOLEHAH? (AYYU NISA’I KHOIRUN?)




Puji syukur kita haturkan kehadhirat Ilahi Robbi yang telah memberikan nikmat kepada kita terutama nikmat hidayah, sholawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan Nabi besar Muhammad saw., segenap sohabat dan keluarganya.

Setiap insan mendambakan mempunyai pasangan hidup (istri) yang sholehah. Istri yang sholehah itu yang bagaimana?

Pada zaman Rasulullah, Fatimah binti Muhammad bertanya kepada Baginda Rasulullah saw., siapakah wanita pertama yang masuk surga? (dalam benak Fatimah Insya Allah saya) Rasulullah menjawab: “Muntia’ah”. Fatimah penasaran, mencari Munti’ah untuk menanyakan amalan apa yang diperbuat sehingga menjadi wanita yang pertama kali masuk surga. (Setelah tahu rumahnya Fatmah berniat untuk bertandang ke rumah Munti’ah)

Fatimah : Assalamu ‘alaikum

Munti’ah : Wa ‘alaikum salam, siapa ya?

Fatimah : saya Fatimah binti Muhammad

Munti’ah : maaf Bu Fatimah, saya belum izin pada suami saya, kalau saya mau menerima tamu! Suami saya tidak ada di rumah. Besuk saja kemari lagi, saya akan minta izin pada suami dulu.

(Besuknya Fatimah datang lagi membawa anaknya yang masih kecil, yang bernama Hasan)

Fatimah: Assalamu ‘alaikum

Munti’ah : Wa ‘alaikum salam, siapa?

Fatimah : saya Fatimah

Munti’ah: siapa anak kecil itu?

Fatimah : Anak saya ; Hasan

Munti’ah: maaf Bu, yang saya mintakan izin kemarin hanya Bu Fatimah, si Hasan belum. Besuk datang kemari lagi akan saya mintakan izin untuk si Hasan

(Esuk harinya Fatimah datang lagi membawa 2 anaknya Hasan, dan Husein karena si Husein tidak mau ditinggal akhirnya diajak ikut serta)

Singkat cerita setelah beberapa kali bolak balik, akhirnya Fatimah dizinkan bisa bertamu ke rumah Munti’ah, walaupun rumahnya kecil sederhana tetapi tampak rapi bersih dan harum baunya. Fatimah masuk ke ruang makan, melihat di atas meja telah tersedia makanan tersusun dengan rapi, untuk menyambut suaminya. Fatimah tertegun ketika melihat cambuk yang tergantung di dekat ruang makan, Fatimah bertanya kepada Munti’ah untuk apa cambuk itu? Munti’ah menjawab cambuk itu sengaja saya siapkan, barang kali, saya dalam memasak/menyiapkan makanan kurang selera (kurang enak) bagi suami, saya rela dicambuk karena kesalahan saya belum bisa melayani suami dengan baik.

Dari cerita di atas dapat diambil hikmah bahwa seorang istri jangan sampai sembarangan menerima tamu, dan kalau menerima tamu harus sepengetahuan suami. Tatkala suami tidak ada di rumah, istri bisa menjaga diri, bila ada tamu laki-laki sendirian sebaiknya jangan disuruh masuk sebab bisa menjadikan fitnah dan setiap ada yang datang ke rumah supaya diberitahukan pada suami.

Awal mula seorang istri nyeleweng ketika ditinggal pergi suaminya, karena sering menerima tamu laki-laki dan suaminya tidak diberi tahu (main belakang)

Dalam Al-Hadits Sunan Annasa’i Rasulullah menjelaskan ciri-ciri isteri yang sholehah:” Manakah Isteri yang lebih baik (sholehah)? Nabi menjawab: menyenangkan ketika dipandang oleh suaminya, dan mentoati pada suaminya ketika diperintah, dan tidak menyelisihi baik dirinya maupun dengan harta suaminya.

Menjadi seorang isteri harus pandai membuat suaminya merasa senang dengan penampilan dan perangai yang baik (akhlaqul karimah), mengetahui selera suami. Mentaati semua perintah suami selagi tidak ma’siyyat. Walaupn demikian sebagai suami tidak boleh semena-mena dengan istrinya perintah pada istri yang kiranya mampu dikerjakan oleh istrinya karena istri itu bukan budak melainkan pendamping hidup bagi suami, untuk saling melengkapi.

Seorang istri tidak boleh menyelisihi pada suaminya baik dalam dirinya, jika suami berkehendak istrinya supaya siap, dengan membangun komunikasi yang baik dengan suaminya, mengetahui kegemaran suaminya, dan suapaya transparan dalam hal keuangan (suaminya mengetahui)

Perlu diketahui pula bagi para suami bahwa;” Semua kehidupan dunia ini merupakan kesenangan dan sebaik-baiknya kesenangan dunia adalah istri yang sholehah”, (dijelaskan dalam Hadits sunan An-Nasa’i)

Dalam rumah tangga tentunya kita sebagai suami isteri menghendaki kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak (masuk surga), suapaya saling ingat mengingatkan menghidupkan musyawarah dalah rumah tangga, sehingga bisa dihindari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Kriteria bagi sorang isteri yang menjadi calon penghuni surga diterangkan dalam hadis nabi diantaranya:

1. Ketika seorang isteri telah melaksanakan sholat lima waktu.
2. Berpuasa di Bulan Romadhon
3. Menjaga farjinya (hanya diperuntukkan pada suami yang tercinta)
4. Dan taat kepada suaminya.

Tolak ukur isteri yang sholehah bukan dari segi fisik melainkan dari budi pekerti.

Misal punya istri cantik, ramping, hidung mancung, kulit putih langsat, umumnya manusia senang, bangga. Akan tetapi kalau sudah berumah tangga kecantikan fisik tidak dibarengi dengan akhlak yang baik malah menjadi beban mental bagi suaminya. Isteri yang sholehah dapat kita cari, dengan melihat latar belakang pendidikan, terutama pendidikan agamanya, dari keturunan keluarga yang baik dan lingkungannya juga baik dan punya sifat akhlaqul karimah.

Dalam Al-Hadits Rasulullah menjelaskan:” Apabila ada seorang isteri meninggal dunia, dan suaminya ridho dengan isterinya, maka dia akan masuk surga. Pengertian ridho disini adalah suaminya senang dengan isterinya karena isterinya dapat menunjukkan keshalehannya kepada suaminya, bukannya suaminya senang dengan kematian bininya karena bininya susah diatur dan melawan pada suami, maka cepat cari pengganti itu bukan.

Dijelaskan pula dalam peristiwa mi’raj, Nabi Muhammad saw., diperlihatkan oleh Allah ke neraka kebanyakan yang disiksa adalah kaum wanita, sahabat bertanya,” Apakah mereka kufur pada Allah?” Dijawab oleh Nabi Muhammad,” Bukan”. Kebanyakan mereka kufur kepada suaminya. Suatu keluarga yang telah hidup rukun damai (sakinah mawadah wa rohmah), gara-gara ada suatu masalah yang menyebabkan mereka berselisih akhirnya isterinya berkata,” Selama saya berumah tangga dengan kamu, saya belum pernah merasakan bahagia. Kalimat inilah yang termasuk dalam kategori kufur kepada suaminya. Oleh karena itu syukurilah nikmat yang ada, dan jangan meniadakan nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita.

Demikian uraian singkat tentang isteri yang sholehah. Alhamdulillah Jaza Kumullahu Khoiran.

Oleh: Ust. Ir. Amat Sarjono

Ketua DPD LDII Kab.Lahat.

PENTINGNYA KETELADANAN DALAM MASYARAKAT



Puji syukur kita haturkan kehadhirat Ilahi Robbi yang telah memberikan nikmat kepada kita, terutama nikmat hidayah, sholawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan Nabi besar Muhammad saw., dan segenap sohabat dan keluarganya.

Realita dalam masyarakat sekarang ini untuk mendapat seorang figure panutan, (yang ‘alim, faqih, zuhud, mutawari’, amanah, dan ahli ibadah) dalam masyarakat tidaklah mudah, karena zaman sekarang ini sudah mulai krisis calon pemimpin yang berakhlaqul karimah. Sabda Rasulullah: “Sesungguhnya manusia itu sebagaimana unta seratus, hampir tidak dijumpai dalam unta seratus tersebut, seekorpun yang dapat dijadikan kendaraan yang handal”. (HR. Bukhari).

Saat ini minim figur muslim yang dapat dijadikan panutan, hal ini akan mengancam perkembangan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits di masa mendatang. Dikhawatirkan orang muslim mencari figur non muslim, bahkan bisa terjadi remaja Islam mengidolakan orang-orang di luar Islam yang tidak tahu agama, bahkan ahli maksiat.

Melihat gejala tersebut di atas hendaknya kita segera sadar dan bertindak cepat agar keadaan tidak semakin parah, jika tidak segera ditangani, tidak menunutup kemungkinan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits akan punah sedikit demi sedikit.

Solusi dari permasalahan tersebut antara lain:

1. Bagi para RO’IN : tokoh masyarakat, tokoh agama, umara’, ‘urafa’(orang yang dijadikan pengurus suatu lembaga, instansi, dll). Umana’ (orang yang diberi amanah untuk suatu tugas tertentu).

Seorang muslim yang diangkat/dipilih menjadi pengurus/pemimpin supaya menyadari bahwa dengan amanah(jabatan) itu, akan menjadi orang yang mulia, terhormat, mempunyai kesempatan untuk memperjuangkan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits yang pada akhirnya dapat meningkatkan derajat surganya, dapat berbuat baik pada masyarakat, dengan memberikan pelayanan yang baik, bisa mengayomi masyarakat. Rasulullah menjelaskan: “As-Sulthonu dhillullah fii al-ard”, artinya: “Pemimpin (Sulthon) adalah naungannya Allah di bumi”.“Khoiru annaasi anfaahum linnasi” artinya : “Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain”. Dipilihnya/dijadikannya pengurus/pemimpin berarti dipercaya untuk melaksanakan amanah, yang tidak setiap orang muslim dinilai mampu untuk menjalankan amanah tersebut, maka harus bersyukur atas kepercayaan yang diberikan. Kesyukuran itu harus diimplementasikan dalam bentuk semangat, giat dalam menetapi kewajibannya, supaya bisa dirasakan manfaatnya bagi masyarakat yang lain. Sabda Rasulullah saw:

Disamping semangat dalam mengurusi RO’YAH (rakyat/masyarakat), para ro’in harus meningkatkan amal ibadah dan meningkatkan budi pekertinya, menjauhi kemaksiatan, karena ro’in selalu dilihat, dicermati oleh ro’yahnya. Apabila ada ro’in yang melanggar norma agama dan norma susila dapat dijadikan bahan cemoohan atau dijadikan dasar pembenar atas pelanggaran yang mereka lakukan, sehingga remaja sekarang jika berbuat maksiat berdalih karena pemimpin kami juga demikian. Ro’in yang amanah dan menetapi peraturan agama, akan menjadi cermin/panutan bagi ro’yah. Orang yang punya amalan baik dan dicontoh(diikuti) orang lain, mereka akan mendapat pahala yang besar, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Barang siapa memberi keteladanan dalam Islam dengan keteladanan yang baik, maka baginya mendapat pahala keteladanan itu, dan pahala orang-orang yang mengamalkan keteladanan itu, tanpa mengurangi pahala mereka (yang mengamalkan) sedikit pun”.(HR. Ahmad).

Para Ro’in hendaknya memberikan keteladanan yang baik diantaranya:

* Memberikan contoh dalam ketertiban menetapi ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits, tertib sholat lima waktu, dan menjauhi kemaksiatan.
* Dalam kehidupan bermasyarakat dapat memberikan contoh keteladanan seperti 6 thobi’at luhur: Jujur, amanah, muzhid mujhid (hemat/sederhana dan kerja keras), rukun, kompak dan kerjasama yang baik.

1. Bagi Ro’yah (rakyat/masyarakat)

Kita harus memahami bahwa orang iman adalah sebaik-baiknya makhluk, sebaliknya orang yang tidak beriman adalah sejelek-jeleknya makhluk, sebagaimana Firman Allah:”Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab, dan orang-orang musrik (akan masuk) ke neraka jahanam dalam keadaan kekal di dalamnya, mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk” (QS. Al-Bayinah:6).

Orang yang kaya berpangkat, pandai, penuh dengan prestasi, ganteng lagi gagah, seolah tanpa cacat, tetapi jika tidak beriman, berarti hina di sisi Allah, dan orang iman yang asalnya dari desa hitam lagi pendek, itu masih lebih baik dari pada mereka, karena orang yang tidak beriman adalah sejelek-jeleknya makhluk, sangat tidak pantas kita jadikan panutan. Jika diantara mereka ada yang jadi pejabat, dikhawatirkan tidak memikirkan kesejahteraan rakyatnya, orientasinya pada bisnis, mencari keuntungan pribadi. Orang yang beriman (orang yang dicintai Allah) jangan sekali-kali mengagumi orang-orang yang menjadi musuh Allah, Rasul dan juga musuh orang iman.

Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Hud ayat 113:” Janganlah kalian condong kepada orang-orang yang dholim, maka neraka akan menimpa kalian….”

Untuk bisa mengidolakan sosok dari kalangan muslim, maka kita harus menyadari dan memahami bahwa setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, janganlah kita hanya memandang dari sisi kekurangannya saja, akan tetapi kita harus bisa melihat seseorang itu dari kelebihan-kelebihan yang dia miliki, sehingga kita bisa mencontoh kelebihan-kelebihan yang mereka miliki, dan jika akan mengidolakan tokoh yang tiada cela yaitu mengidolakan/ mencontoh Rasulullah saw.

Allah berfirman :” Laqod kaana fii rasuulillahi uswatun hasanatun liman kaana yarjullaha walyauma al-akhirata wa dzakarolloha katsiran” (QS. Al-Ahzab:21), artinya: “Niscaya ada pada diri Rasulullah adalah contoh yang baik, bagi orang yang mengharapkan bertemu Allah dan hari akhir dan banyak ingat pada Allah”.

Demikian juga yang dijelaskan Rasulullah dalam Al-Hadits: “Sesungguhnya dijadikan imam/pemimpin itu untuk diikuti” (HR. Bukhari).

Keteladanan dalam rumah tangga sangat diperlukan, sebagai seorang suami dapat memberikan contoh di dalam rumah tangga tersebut terutama dalam pendidikan anak, karena mendidik anak dengan keteladanan, anak akan mudah mengikuti. Mendidik anak agar mau sholat, orang tuanya mencontohi, tentunya melaksankan sholat juga, jangan hanya menyuruh saja sedangkan orang tuanya tidak sholat. Perhatikan Firman Allah :

” Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian bisa mengatakan pada sesuatu yang kalian tidak melaksanakannya* Besar sekali kebencian(dosa) di sisi Allah, jika kalian bisa mengatakan pada sesuatu yang kalian tidak bisa melaksanankan” (QS. Ash-Shof: 2-3)

Demikian uraian singkat tentang keteladanan, semoga bermanfaat bagi pembaca. Alhamdulillah jaza kumullahu khoiran.

Oleh;

Ir. Amat Sarjono

Ketua DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)

Kabupaten Lahat.

Jumat, 09 April 2010

PERLUNYA ADIL BAGI PEMIMPIN

Alhamdulillah alladzii hadaanaa lil-islam wal iimaan wal ihsaan asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluhu shollallahu alaihi wasalam wa alaa alihi wa ashhsbihi amma ba’du:

Puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang telah menjadikan kita sebagai kholifah fil ard dan telah menunjukkan kita ke jalan yang benar yaitu dengan menetapi agama Islam yang haq ini. Lebih-lebih kita hidup di zaman Khoir dimana agama Allah yang haq ini dapat berjalan dan berkembang dengan baik, senantiasa dalam lindunganNya. Dapat kita bayangkan apabila kita hidup di zaman Syar, yaitu zaman dimana peraturan-peraturan Allah dan RasulNya sudah tidak bisa lagi berjalan dengan baik, kemaksiatan merajalela dimana-mana, bahkan banyak golongan yang mengajak ke jalan yang sesat.

Kalau kondisi zaman sudah mengalami hal yang paling buruk, Rosulullah memberikan petunjuk pada umatnya untuk melakukan uzlah yaitu mengasingkan diri menjauhkan diri dari kemaksiatan dan firqoh agar selamat dari pengaruh buruk di zaman itu (HR. Muslim).

Untuk mempertahankan zaman khoir, antara pemimpin (Umaro’) dan ro’yah (rakyat) supaya bekerja sama dengan baik, tahu haq dan kewajibannya masing-masing, sebagi pemimpin (umaro’) berkewajiban memberikan nasehat/arahan, ijtihad/kebijakan dan mengatur adil disertai rofiq, muhsin, aris sedangkan ro’yah (rakyat) berkewajiban tho’at bilma’ruf (mentaati peraturan Allah dan Rasul serta perundang-undangan yang berlaku) dan syukur kepada Allah. Firman Allah dalam Al-Quran yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman tho’atlah kalian kepada Allah dan tho’atlah kalian kepada Rosul dan kepada ulil-amri dari kalian” (QS. Annisa’:59).

Perintah adil untuk seorang pemimpin:

I’diluu huwa aqrabu littaqwa artinya “berbuat adillah kamu sebab adil itu lebih mendekatkan pada ketaqwaan”(Qs.Almaidah:8).



Pada dasarnya adil adalah merupakan kewajiban semua orang iman. Karena setiap insan adalah pemimpin, baik pemimpin dalam rumah tangga, masyarakat, instansi/lembaga maupun pemerintahan Rasulullah bersabda: ……Kullukum ro’in wakullukum mas-ulun ‘an ro’yatihi …, artinya:” Setiap kamu sekalian adalah pengembala (pemimpin) dan setiap pengembala (pemimpin) akan ditanya tentang apa yang digembalanya/dipimpinnya (ra’yah)”(HR. Bukhari) Umaro’ juga pengembala, dia akan ditanya tentang gembalaanya(ro’yah), seorang laki-laki juga pengembala dia akan ditanya tentang keluarga dan anak-anaknya, bahkan seorang budakpun juga pengembala dia akan ditanya tentang harta majikannya. Adilnya seorang pemimpin yang baik adalah tidak pandang bulu/ tidak membeda-bedakan suku, ras, golongan dan lain-lain walupun dengan keluarganya sendiri kalau salah tetap dikatakan salah seperti yang telah dilakukan oleh rasulullah dalam sabdanya yang artinya: “ Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri niscaya aku potong tangannya” (HR Bukhari)

Adilnya seorang pemimpin harus disertai dengan rofiq – muhsin - aris

Penjelasan:

Rofiq : welas asih, kasih sayang, ramah tamah, lemah lembut

Muhsin : berkata yang baik, bertingkah laku yang baik, berbudi pekerti yang luhur/baik

dan senantiasa berusaha mewujudkan kebaikan untuk kepentingan agama,

Bangsa, ro’yahnya/rakyat, keluarganya maupun dirinya sendiri.

Aris : Sabar, lapang dada, tidak mudah marah, tidak mudah mendiskreditkan golongan

tertentu maupun ra’yahnya.

Lebih jelasnya kita hayati dalil-dalil berikut ini:

Firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil dan berbuat baik dan memberikan hak kepada kerabat-kerabat dan mencegah dari yang keji dan yang munkar dan durhaka, Allah menasehati pada kalian agar kalian ingat”.(QS. Annahl: 90).



Firman Allah (QS. Annisa’: 135) yang artinya: “ Wahai orang-orang yang beriman jadilah kalian orang-orang yang menetapi adil sebagai saksi-saksi bagi Allah dan meskipun memberatkan diri kalian sendiri atau kedua orang tua dan kerabat-kerabat, Jika (yang disaksikan itu) kaya atau fakir maka Allah yang lebih berhak kepada keduanya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu untuk berbuat tidak adil dan jika kalian menyimpang atau berpaling maka sesungguhnya Allah Maha Waspada dengan apa yang kalian kerjakan”.



Sabda Rasulullah saw, yang artinya:”Dimana ada seorang pengatur yang dijadikan pengatur/pemimpin, maka ia lemah lembut dan kasih sayang (kepada ra’yahnya), maka Allah sayang kepadanya di hari kiamat.(HR. Ibnu Abidunya)

Dalam hadits Bukhari Rasulullah bersabda yang artinya:”Mudahkanlah dan jangan menyulitkan, gembirakanlah dan jangan menyebabkan mereka lari. (HR. Bukhari)

Pengertian hadits ini sesuai dengan konsep otonomi daerah yaitu pelayanan yang baik untuk masyarakat, memberikan kemudahan sehingga rakyat senang. Jangan seperti isu yang berkembang saat ini, yaitu ada pepatah ;kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah. Yang ujung-ujungnya bermuara pada imbalan jasa/hadiah dan yang sejenisnya.

Dalam Hadits lain Rasulullah menjelaskan “Al’urafa-uhu khodimahu” yang artinya: ”Pemimpin/pengurus itu adalah pelayan”. Usahakan kita sebagai pemimpin dapat melayani masyarakat dengan sebaik mungkin.



Apabila seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas ada kekeliruan/ kekhilafan atau secara pribadi pemimpin tersebut ada prilaku yang kurang terpuji, wajib bagi wakil-wakilnya (perangkatnya) atau rakyatnya untuk mengingatkan dengan cara yang baik dengan tujuan yang baik yaitu untuk kebaikan pemimpin itu sendiri dan untuk kebaikan semua ra’yahnya (rakyatnya). Jangan sampai mengadakan lakon-lakon atau gerakan-gerakan provokatif kepada masyarakat mencari dukungan dengan mengumpulkan tanda tangan sebanyak-banyaknya atau mengadakan demontrasi yang bertujuan menjatuhkan/menggulingkan pemimpin dengan alasan reformasi.



Bagi wakil-wakil pemimpin, pengatur/pengurus (jajaranya) supaya selalu memperkuat dan mendukung dan melancarkan arahan dan kebijakan yang dibuat oleh pimpinan yang tidak maksiat dan bepihak kepada kesejahteraan rakyatnya. Tidak meresolusi, tidak menghambat, tidak merongrong kewibawaan pemimpin, dan juga harus memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh pimpinannya yaitu: adil, rofiq, muhsin, aris, dengan harapan mendapat kemulyaan dan derajat yang tinggi di sisi Allah. Sabda Rasulullah saw, yang artinya;”Tidak ada manusia yang lebih besar pahalanya dari pada wakil yang sholeh, wakil itu bersama umaro’nya yaitu umaro’nya memerintah dengan menegakkan dzatNya (peraturan Allah) kemudian ia mentaatinya (HR Ibnu Annajar)”.



Buah kepemimpina yang adil:

1. Terciptanya suasana kehidupan yang tentram dan damai di dalam masyarakat dengan diwarnai dengan hubungan harmonis antara ro’in (pengembala/pemimpin) dengan ro’yah (rakyat/yang dipimpin) sehingga tumbuh rasa saling cinta-mencintai dan saling doa dan mendoakan, dengan keadilan pemimpin rakyat akan senang, merasa terayomi, mudah diatur dan diarahkan untuk berjuang menuju kebaikan, masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah (baldatun toyyibatun warobbun ghofur)
2. Berkembangnya kwalitas sumber daya manusia (SDM) di seluruh pelosok yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dan kesemangatan untuk belajar dan amar ma’ruf.
3. Terwujudnya sarana dan prasarana ibadah dan pendidikan yang cukup memadai karena masyarakat terutama aghniya’nya (orang kaya) dermawan ridho dan ikhlas menyisihkan sebagian hartanya untuk keperluan fasilitas umum seperti tempat ibadah dan pendidikan serta merasa bersyukur bisa ikut andil dalam perjuangan dan punya amal jariah yang banyak.
4. Meningkatnya kesejahteraan dan ekonomi masyarakat karena banyak angkatan kerja yang bisa terserap sehingga mendapat penghasilan yang memadai serta masyarakat dapat diberdayakan dengan usaha mandiri yang halal.





Penulis:

Ir. Amat Sarjono.

* Ketua Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kab. Lahat
* Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Kab. Lahat.

MENJAGA KEMURNIAN AJARAN ALQUR’AN DAN ALHADITS

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin ashhadu alla ilaha illallah washhadu anna muhammadan ‘abduhu warosuluhu amma ba’du:

Puji syukur kita haturkan kehadirat Allah SWT., atas karunia yang diberikan kepada kita semua, sehingga kita dapat melakukan aktivitas dan berkarya untuk kebaikan. Disamping itu kita telah diberi hidayah dapat menetapi agama yang haq yaitu agama Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kita harus memahami bahwa dengan menetapi Al-Qur’an dan Al-Hadits kita telah berada di jalan yang benar, jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Kebenaran ini harus kita jaga kemurniannya jangan sampai dicampuri dengan bid’ah, khurofat, tahayul, dan lain-lain agar kita tetap mendapat pertolongan dari Allah SWT.

Kemurnian Al-Qur’an dan Al-Hadits yang harus kita jaga adalah:



1. Murni Pedoman

Pedoman umat Islam yang telah dijamin kesempurnaannya dan kebenarannya adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Di dalamnya telah dimuat ketentuan-ketentuan, hukum-hukum, dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan perintah-larangan, halal-haram, haq-batal, dosa-pahala, janji-ancaman dll. Maka dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits sudah sempurna sebagai pedoman/pegangan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah yang dijamin pasti benarnya. Untuk mengetahui, memahami dan meyakini Al-Qur’an dan Al-Hadits sekali gus untuk menjaga kemurniannya, kita dituntut untuk mengaji secara benar, meliputi bacaan, makna, keterangan yaitu dengan cara berguru (pemindahan ilmu dari guru kepada murid) dan musnad-muttashil artinya bersandar kepada guru (siapapun orangnya) secara sambung bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. Berdasarkan sabdanya yang artinya: “Kalian mendengarkan dan didengarkan dari kalian dan didengar dari orang yang mendengarkan dari kalian (HR. Abudawud)

Ucapan Abdullah bin Mubarok di dalam mukadimah Hadits Muslim yang artinya:”Isnad itu termasuk agama, andaikan tidak ada sandaran guru (isnad) niscaya berkata orang yang berkehendak pada apa yang dia kehendaki”(fi muqadimah muslim)

Mengaji dengan sistem ini semua masyarakat dari berbagai tingkatan pendidikan dan status sosial bisa mengaji Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan mudah sampai faham dan bisa mengamalkannya dengan benar, serta menjaga kemurniannya. Ingat sabda Rasulullah saw. yang artinya:”Barang siapa yang berkata dalam kitabnya Allah Yang Maha Mulya dan Maha Agung dengan pendapat sendiri lalu benar, maka sungguh-sungguh salah” (HR. Abudawud). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda yang artinya: “Barang siapa berkata tentang Al-Qur’an dengan tanpa ilmu, maka hendaklah bertempat di neraka” (HR. Attirmidzi).



1. Murni ‘Amalan (Ibadah)

Dalam mengamalkan ajaran Alqur’an dan Alhadits yang telah dikaji secara benar juga harus kita jaga kemurniannya, artinya tidak kecampuran bid’ah, khurofat, syirik dan takhayul.

Bid’ah ialah semua amalan ibadah atau perbuatan ibadah yang baru dan diada-adakan tidak diperintahkan dan dicontohkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan maksud untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Walaupun pada umumnya orang yang mengerjakan Bid’ah kelihatan lebih khusyu’ lebih mantap tapi hukumnya betul-betul dilarang dalam agama, menurut dalil hukumnya sesat. Amal ibadah yang dicampuri bid’ah tidak akan diterima oleh Allah, kecuali bid’ah yang dilakukan oleh kholifah (Khulafa-urrasyidin almahdiyyin) seperti Umar bin Khotob berijtihad agar sholat malam di bulan romadlon (tarwih) secara berjamaah. Rasulullah saw bersabda yang artinya “Tetapilah petunjukku(Nabi Muhammad) dan petunjuknya khulafa-urrasyidin (kholifah yang benar) yang mendapat petunjuk” (HR. Bukhori).

Dalil-dalil yang menyebutkan bahwa Bid’ah itu sesat adalah:

“Sejelek-jeleknya perkara (agama) adalah diperbaharuinya perkara (yang belum pernah diajarkan oleh Nabi) setiap perkara baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di dalam neraka” (HR. An-Nasa’i)

Khurofat adalah cerita batil yakni cerita-cerita yang dihubungkan dengan kepercayaan dan keyakinan yang tidak ada dasarnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Syirik adalah menyekutukan kepada Allah dengan apapun, dalam bentuk apapun, baik ucapan, perbuatan, niat, angan-angan, kepercayaan dan keyakinan.

Takhoyul adalah hasil angan-angan yang dijadikan kepercayaan dan keyakinan.

Firman Allah: …La-in asyrakta layahbathonna ‘amaluka walatakuunanna minalkhosiriin yang artinya: ”Jika kamu (Muhammad) syirik niscaya leburlah semua amalmu dan niscaya engkau menjadi orang-orang yang rugi”. (QS. Azzumar: 65)





Firman Allah (QS. An-Nisa’:116) yang artinya: ”Sesungguhnya Allah tidak memberi ampun jika Dia disekutukan, dan Allah memberi ampun dosa selain syirik kepada orang yang Dia kehendaki, dan barang siapa menyekutukan kepada Allah maka sesungguhnya dia telah sesat dengan sejauh-jauhnya kesesatan”.

Diharapkan kepada kaum muslimin agar dapat menghindari dan menjauhi perbuatan-perbuatan seperti tersebut di atas (bid’ah, syirik, khurofat dan takhayul)



1. Murni Niat/Tujuan

Deterima dan tidaknya suatu amalan sangat tergantung kepada niatnya. Dalam melaksanakan ibadah supaya diterima oleh Allah harus diniati mukhlis lillah karena Allah, sebab amalan tidak karena Allah, Allah pasti akan menolak bahkan membalas dengan siksa. Firman Allah yang artinya;”Dan tidaklah seorang itu dibalas amalannya di sisi Allah kecuali karena mencari Dzat Allah Yang Maha Luhur (karena Allah) dan dia akan senang”. (QS. Allail: 19 – 21)

Sabda Rasulullah yang artinya;” Sesungguhnya beberapa pengamalan itu ada niatnya dan sesunguhnya bagi seseorang itu tergantung pada niatnya, maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan kepada RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan kepada RasulNya (mendapatkan pahala dan surga) dan barang siapa yang hijrahnya karena niat untuk mendapatkan dunia atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya pada yang diniatkan (itupun kalau Allah menghendaki)”. (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda yang artinya:”Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali amalan yang mukhlis bagi-Nya dan dikehendaki mencari Dzat-Nya (karena Allah)’. (HR.AnNasa’i).

Bagi kaum muslimin diharapkan dapat menjaga hati jangan sampai salah niat dalam melaksanakan ibadah, baik ibadah wajib, ibadah sunah maupun melaksanakan amal sholeh sesuai dengan kedudukannya masing-masing. Jangan sampai melaksankan ibadah dengan tekun dan khusyu’ bersodaqoh banyak hanya ingin dilihat, dipuji, dan disanjung oleh orang lain (riya’). Membaca Al-Qur’an, memberikan nasehat/ceramah hanya ingin didengar, dipuji, disanjung oleh orang lain (sum’ah). Atau mempunyai keinginan tersembunyi (mencari selain Dzat Allah), seperti tekun, giat, semangat dalam beramal sholeh hanya ingin mendapat imbalan, mendapat hadiah, ingin diambil menantu dsb., yang demikian itu juga termasuk syirik berarti rugi besar, sebab di dunianya belum tentu mendapatkan seperti apa yang diharapkan di akhiratnya termasuk ahli syirik.

Ingatlah sabda Rasulullah saw. dibawah ini yang artinya;”Sesungguhnya lebih mengkhawatirkannya apa-apa yang paling aku khawatirkan atas umatku ialah menyekutukan pada Allah. Ingatlah sesungguhnya tidak kukatakan mereka menyembah matahari atau bulan atau berhala, tetapi (yang paling aku khawatirkan) adalah amalan-amalan karena selain Allah dan keinginan yang tersembunyi.” (HR. Ibnu Majah).

Ada beberapa tanda/cirri-ciri orang yang beramal sholeh tidak karena Allah yang bisa menjadi peringatan bagi kita sebagaimana disampaikan oleh sahabat Ali bin Abi Tholib r.a. yang artinya;”Ada tiga tanda bagi orang yang pamer (tidak karena Allah) yaitu bermalas-malasan ketika sendirian, semangat ketika dilihat manusia, dan menambah amalan ketika disanjung /dipuji.”(Fi Ihya’i Ulumuddin).

Usaha agar terhindar dari segala macam bentuk syirik termasuk niat yang tidak karena Allah, yaitu dengan memperbanyak do’a: ALLAHUMMA INNA NA’UDZUBIKA MIN ANNUSYRIKA BIKA SYAI-AN NA’LAMU WANASTAGHFIRUKA LIMAA LAA NA’LAMU. ALLAHUMMA INNA NAS-ALUKA RIDHOKA WALJANNAH WANA’UDZUBIKA MIN SAKHOTIKA WANNARI.



Hal-hal yang menyebabkan hilangnya kemurnian ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah:

1. Kurangnya Ilmu
2. Kurang mendengarkan nasehat, pituah, ceramah agama
3. Tidak bisa menjaga pergaulan.

Oleh karena itu untuk menjaga kelestarian dan kemurnian ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits sampai akhir zaman kita harus banyak menuntut ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah yaitu Ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Memperbanyak mengikuti, menghadiri pengajian, mendengarkan nasehat agama dan bisa menjaga pergaulan, supaya bergaul kepada orang-orang yang sholeh ( mempunyai budi pekerti yang baik).



Penulis:

Ir. Amat Sarjono

* Ketua Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kab. Lahat.

* Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Kab.Lahat

Kamis, 11 Maret 2010

PEMBINAAN GENERASI MUDA SEBAGAI GENERASI PENERUS BANGSA

Alhamdulillahi robbil alamin, asyhadu alla ilaaha illallah, wa-asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warosuluhu shollallahu ‘alaihi wasalam, wa ‘alaa aalihi wa-ash habihi amma ba’du:

Sudah menjadi sunatullah bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah sebagai kholifah di bumi ini akan selalu silih berganti dari generasi ke generasi. Proses alih genearasi ini berjalan terus secara alamiah sesuai dengan mekanismenya. Allah berfirman yang artinya: “Kemudian kami jadikan kalian (umat Muhammad) sebagai generasi pengganti di bumi ini, setelah mereka (umat terdahulu), agar kami melihat bagaimana kalian berbuat” (QS: Yunus;14)

Pada hakekatnya apa yang kita capai saat ini, adalah hasil perjuangan di masa lampau, sedangkan yang akan kita peroleh di masa mendatang adalah tergantung pada apa yang kita lakukan pada masa sekarang ini. Tiap-tiap generasi mempunyai tanggung jawab yang sama yaitu memelihara apa yang telah dicapai pendahulunya, kemudian meneruskan dan mewariskan kepada generasi berikutnya.

Perjuangan generasi penerus menyongsong eraglobalisasi, tentu tantangannya akan semakin berat, karena semakin ke depan, teknologi semakin canggih dan moral manusia semakin rendah, diterangkan dalam Hadits yang artinya:’Tidak datang kepada kamu sekalian suatu tahun, kecuali tahun yang sesudahnya akan lebih jelek dari pada tahun sebelumnya” (HR. At-Tobroni)

Oleh karena itu betapa pentingnya pembinaan generasi muda yang kita lakukan saat ini, sebagai upaya mempersiapkan generasi mendatang yang handal sebagai pemimpin bangsa. Yang dimaksud pembinaan generasi muda adalah suatu pembinaan yang terencana dan berkesinambungan sesuai dengan tuntunan agama Islam (AlQuran dan Hadits) untuk mempersiapkan generasi penerus yang handal berakhlaqul karimah, yang pada gilirannya nanti mampu menerima dan meneruskan estafet perjuangan dan kepemimpinan bangsa yang lebih baik.

Dalam pembinaan generasi muda, target yang akan dicapai ada 3 hal:

  1. Memiliki akhlaqul karimah (berbudi pekerti yang baik).
  2. Faqih dalam agama dan berilmu.
  3. Mempunyai ketrampilan untuk hidup mandiri

Untuk mendukung tercapainya tiga target keberhasilan generasi muda tersebut perlu kerja sama yang baik antara:

  1. Orang tua.
  2. Ustad/Ustadzah
  3. Urofa’ (Pengurus lingkungan/masyarakat/komunitas)
  4. Umaro’
  5. Ahli pendidik/Psykolog.

Rumusan tersebut baru berupa konsep yang bersifat das solen (Belanda: suatu yang diharapkan/seharusnya), belum merupakan jaminan yang secara otomatis akan terwujud dengan sendirinya, tanpa usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapainya. Permasalahan utamanya adalah bagaimana mewujudkan rumusan tersebut menjadi keberhasilan yang nyata.

Oleh karena itu 5 (lima) unsur Pembina generasi muda (Orang tua, ustad/ustadzah, urofa’, umaro’ dan ahli pendidik/psykolog) supaya bekerja sama yang baik untuk membina generasi muda.

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari masa ke masa sejak Kebangkitan Nasional di tahun 1908, peristiwa Sumpah Pemuda tahun 1928 kemudian revolusi fisik perjuangan kemerdekaan tahun 1945 sampai di era reformasi ini selalu ditandai dengan tampilnya pemuda/ generasi muda sebagai pelopor. Kisah kepeloporan pemuda di atas dapat memotivasi generasi muda agar mereka tidak hanya puas menjadi objek (sasaran) akan tetapi tergugah kesadarannya untuk mengambil peran secara pro aktif dan memposisikan dirinya sebagai subjek (pelaku) dalam proses pembinaan generasi penerus.

Keberhasilan atas suatu target yang ingin dicapai sangatlah dipengaruhi oleh motovasi yang melatar belakanginya, karena di dalamnya terkandung kebutuhan dan tujuan yang merupakan diterminan (factor penentu) penting yang mempengaruhi sikap dan perilaku. Dalam pembinaan generasi muda dengan menempatkan tiga target keberhasilan generasi penerus sebagai kebutuhan sekeligus tujuan, maka akan melahirkan sikap dan perilaku yang lebih bersemangat dan mengarah pada pencapaian tujuan karena didorong oleh suatu kebutuhan. Berikut uraian tiga target keberhasilan tesebut:

I. Memiliki Akhlaqul karimah

Menurut sabda Rasulullah Saw. (HR. Al-Hakam), bahwa termasuk akhlaq/budi pekerti/ thobiat orang iman itu adalah:

  1. 1. Quwwatan fii diinin. Kuat memegang teguh pendirian dan keyakinan tidak mudah

terpengaruh keadaan, dan tidak lemah karena cobaan/ujian

  1. 2. Wahazman fii liinin. Tegas dalam mengambil sikap, tetapi tetap berlapang dada

dan mudah menerima nasehat/saran yang konstruktif (membangun).

  1. 3. Wa imanan fii yaqiin. Mantap dan yakin terhadap kebenaran yang diperjuangkan

dan tidak ragu-ragu dalam menunjukkan kebenaran.

  1. 4. Wa hirson fii “ilmin. Selalu ingin bertambahnya ilmu sebagai modal pengetahuan dan kebenaran, tidak berhenti mencari ilmu selama hayat masih dikandung badan.
  2. 5. Wa syafaqotan fii miqotin. Selalu merasa khawatir dan takut jangan-jangan amal sholeh/baik yang telah dikerjakan belum cukup untuk bekal menghadap kehadirat Allah SWT, sehingga timbul semangat untuk beramal sholeh/baik terus.
  3. 6. Wa hilman fii “ilmin. Mempunyai sifat tekun, serta tidak mudah putus asa, hatinya sabar dan aris dalam menimba ilmu.
  4. 7. Wa qosdan fii ghinan. Mempunyai sifat sederhana dalam hidup, walaupun kaya tetapi tetap sederhana.
  5. 8. Wa tajammulan fii faqotin. Selalu menjaga kebersihan walaupun dalam keadaan miskin namun tetap menjaga harga dirinya dengan merias diri (berpenampilan bersih dan rapi).
  6. 9. Wa taharrujan ‘an thoma’. Merasa berdosa dari perbuatan tamak, bisa hidup sederhana dan qonaah terhadap pembagian rezeqi dari Allah.

10. Wa kasban fii halaalin. Dalam bekerja/ berusaha selalu memilih pekerjaan/ usaha yang halal.

11. Wa birran fii istiqomatin. Tetap istiqomah, rutin dan tekun dalam melakukan kebajikan.

12. Wa nasyathon fii hudan. Trampil dan semangat dalam perjuangan, dan tidak malas.

13. Wa nahyan ‘an syahwatin. Dapat mengendalikan diri, tidak selalu menuruti kesenangan/ hawa nafsu yang tidak bermanfaat.

14. Wa rahmatan lilmajhudi. Selalu memperhatikan dengan penuh kasih sayang terhadap orang yang berat menghadapi kehidupannya/ miskin.

15. Laa yahiifu ‘alaa man yubghidhu. Tidak menyimpang dari garis-garis kebenaran meskipun terhadap orang-orang yang selalu membuat dia marah dan geram.

16. Wa laa ya’tsamu fii man yuhibbu. Cintanya kepada seseorang tidak menjadikan dia melanggar larangan agama (berbuat dosa).

17. Wa laa yudhoyyi’u mastuudi’a. Tidak menyia-nyiakan titipan/kepercayaan yang diberikan kepadanya, kalau ada titipan/amanah akan segera disampaikan kepada yang berhak menerimanya.

18. Wa laa yahsudu wa laa yath’anu wa laa yal‘anu. Tidak mempunyai sifat dengki, tidak suka memnuduh jelek dan melaknat sesama orang iman.

19. Waya’tarifu bilhaqqi wa illam yasy-had ‘alaihi. Mau mengakui kesalahan yang diperbuat walau tidak ada yang menyaksikan.

20. Wa laa tanabazu bil-alqob. Tidak memanggil saudaranya dengan pangilan yang menyakitkan hati.

21. fii sholaati mutakhosyi’an ilaa zakati musri’an. Selalu khusyu’ di dalam sholat, dan cepat-cepat memngeluarkan zakat ketika sampai nisobnya.

22. Filzalaazili waquuran. Tabah, sabar dan tahan uji.

23. Fii rakha-i syakuuran. Banyak bersyukur di waktu luang.

24. Qoni’am billadzi lahu laa yudda’i maa laisa lahu. Hanya mau menerima yang menjadi miliknya dan tidak mengakui barang yang bukan miliknya.

25. Wa laa yajmi’u filghoidh. Tidak menaruh dendam dan menyimpannya menjadi permusuhan dan kerusakan diantara orang iman.

26. Wa laa yaghlibuhu asysyuhu ‘an ma’ruf. Sifat kikir dan bakhilnya tidak mencegah untuk berbuat kebaikan, walau berat adanya.

27. Yuriduhu yukhalithunnasa kaiya’lama wayunathiquhum kaiyaf-hama. Mau bergaul dengan masyarakat umum dengan tidak membedakan suku, ras, agama dan golongan untuk mengerti keadaan dan berdialog pada mereka untuk memahami keadaan mereka.

28. Wa indhulima wabughiya ‘alaihi sobaro hatta yakuuna arrahmaanu huwalladzi yantashiru lahu. Jika dianiaya dan dibuat sewenang-wenang atas dirinya tetap sabar sampai Allah Yang Maha Pemurah menolongnya.

II. Faham Agama (faqihan fiddiin) dan Berilmu.

Target kedua dalam pembinaan generasi muda adalah berilmu dan faham agama. Penguasaan ilmu alquran dan hadits oleh generasi penerus ini sangat penting mengingat semakin ke depan ulama semakin langka, maka pewarisan ilmu kepada generasi muda termasuk bagian dari keberhasilan suatu alih generasi. Sabda Rasulullah Saw. yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya dari hambaNya, akan tetapi cara Allah mencabut ilmu itu dengan mewafatkan ulama’ sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang alimpun, kemudian manusia mengangkat pemimpin orang-orang yang bodoh. Maka ketika mereka ditanya, mereka menjawab dengan tanpa dasar ilmu maka mereka itu sesat dan menyesatkan”. (HR.Albukhari)

Sebelum menjadi pemimpin sebaiknya banyak belajar ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan/sain. Umar bin Khotob berkata yang artinya:” Barang siapa yang dijadikan pemimpin (Umara’) oleh kaumnya atas dasar faham (faqihan fiddiin) maka akan hidup baginya dan kaumnya; dan barang siapa yang menjadikan pemimpin (umaro’) oleh kaumnya atas dasar selain faham maka akan rusak baginya dan kaumnya (HR. Addaromi) Hal ini diperkuat oleh Rasulullah Saw, dalam sabdanya;” Tafaqqohuu qobla antusawwaduu” yang artinya:” Usahakanlah menjadi orang yang faqih sebelum kalian dijadikan pemimpin.(HR. Albukhari)

III. Memiliki Keterampilan untuk Hidup Mandiri.

Target ketiga ini untuk mengarahkan generasi muda dapat hidup mandiri, memiliki ketrampilan berupa kecakapan/ keahlian, pekerjaan/usaha yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya. Dengan ketrampilan yang mereka miliki, mereka akan lebih percaya diri dalam menapaki dunia usaha, sehingga usahanya bisa maju dan berkembang.

Keterampilan ini diperoleh dari pendidikan, oleh karena itu selagi masih muda usahakan menempuh pendidikan setinggi mungkin, usahakan menjadi siswa/mahasiswa yang teladan, mendapat ranking di sekolahnya, dan akan lebih baik lagi kalau bisa mendapatkan bea siswa, sehingga dapat meringankan beban orang tuanya. Disamping pendidikan formal, memperoleh keterampilan juga dapat ditempuh melalui kursus, pelatihan dan magang di perusahaan perusahaan.

Keberhasilan target ketiga ini juga diformulasikan untuk mengantisipasi meledaknya angkatan kerja yang dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal ini penting, mengingat pembinaan generasi muda secara umum merupakan persoalan yang dilematis, karena di satu sisi mereka adalah generasi harapan masa depan, tetapi di sisi lain, sebagai angkatan kerja yang perlu disikapi dengan bijak. Untuk mencapai target ini menjadi tanggung jawab kita bersama.

Di dalam hadits Rasulullah bersabda;” Ijmaluu fii tholabi addun-ya fa-inna kullan muyassarra lima khuliqo lahu”. Artinya: Perbaikilah dalam mencari penghidupan dunia (yang halal), maka sesungguhnya tiap-tiap orang itu dimudahkan kepada apa yang diciptakan untuknya (HR.Ibnu Majah)

Demikian uraian singkat, tentang pembinaan gerasi muda, semoga tulisan ini bermafaat bagi pembaca. Alhamdulillah jaza kumullahu hoiran. Amin.

Penulis:

Ir. Amat Sarjono

  • Ketua DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Lahat.
  • Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lahat.