Tausiyah

Rabu, 12 Mei 2010

PENTINGNYA KETELADANAN DALAM MASYARAKAT



Puji syukur kita haturkan kehadhirat Ilahi Robbi yang telah memberikan nikmat kepada kita, terutama nikmat hidayah, sholawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan Nabi besar Muhammad saw., dan segenap sohabat dan keluarganya.

Realita dalam masyarakat sekarang ini untuk mendapat seorang figure panutan, (yang ‘alim, faqih, zuhud, mutawari’, amanah, dan ahli ibadah) dalam masyarakat tidaklah mudah, karena zaman sekarang ini sudah mulai krisis calon pemimpin yang berakhlaqul karimah. Sabda Rasulullah: “Sesungguhnya manusia itu sebagaimana unta seratus, hampir tidak dijumpai dalam unta seratus tersebut, seekorpun yang dapat dijadikan kendaraan yang handal”. (HR. Bukhari).

Saat ini minim figur muslim yang dapat dijadikan panutan, hal ini akan mengancam perkembangan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits di masa mendatang. Dikhawatirkan orang muslim mencari figur non muslim, bahkan bisa terjadi remaja Islam mengidolakan orang-orang di luar Islam yang tidak tahu agama, bahkan ahli maksiat.

Melihat gejala tersebut di atas hendaknya kita segera sadar dan bertindak cepat agar keadaan tidak semakin parah, jika tidak segera ditangani, tidak menunutup kemungkinan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits akan punah sedikit demi sedikit.

Solusi dari permasalahan tersebut antara lain:

1. Bagi para RO’IN : tokoh masyarakat, tokoh agama, umara’, ‘urafa’(orang yang dijadikan pengurus suatu lembaga, instansi, dll). Umana’ (orang yang diberi amanah untuk suatu tugas tertentu).

Seorang muslim yang diangkat/dipilih menjadi pengurus/pemimpin supaya menyadari bahwa dengan amanah(jabatan) itu, akan menjadi orang yang mulia, terhormat, mempunyai kesempatan untuk memperjuangkan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits yang pada akhirnya dapat meningkatkan derajat surganya, dapat berbuat baik pada masyarakat, dengan memberikan pelayanan yang baik, bisa mengayomi masyarakat. Rasulullah menjelaskan: “As-Sulthonu dhillullah fii al-ard”, artinya: “Pemimpin (Sulthon) adalah naungannya Allah di bumi”.“Khoiru annaasi anfaahum linnasi” artinya : “Sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain”. Dipilihnya/dijadikannya pengurus/pemimpin berarti dipercaya untuk melaksanakan amanah, yang tidak setiap orang muslim dinilai mampu untuk menjalankan amanah tersebut, maka harus bersyukur atas kepercayaan yang diberikan. Kesyukuran itu harus diimplementasikan dalam bentuk semangat, giat dalam menetapi kewajibannya, supaya bisa dirasakan manfaatnya bagi masyarakat yang lain. Sabda Rasulullah saw:

Disamping semangat dalam mengurusi RO’YAH (rakyat/masyarakat), para ro’in harus meningkatkan amal ibadah dan meningkatkan budi pekertinya, menjauhi kemaksiatan, karena ro’in selalu dilihat, dicermati oleh ro’yahnya. Apabila ada ro’in yang melanggar norma agama dan norma susila dapat dijadikan bahan cemoohan atau dijadikan dasar pembenar atas pelanggaran yang mereka lakukan, sehingga remaja sekarang jika berbuat maksiat berdalih karena pemimpin kami juga demikian. Ro’in yang amanah dan menetapi peraturan agama, akan menjadi cermin/panutan bagi ro’yah. Orang yang punya amalan baik dan dicontoh(diikuti) orang lain, mereka akan mendapat pahala yang besar, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Barang siapa memberi keteladanan dalam Islam dengan keteladanan yang baik, maka baginya mendapat pahala keteladanan itu, dan pahala orang-orang yang mengamalkan keteladanan itu, tanpa mengurangi pahala mereka (yang mengamalkan) sedikit pun”.(HR. Ahmad).

Para Ro’in hendaknya memberikan keteladanan yang baik diantaranya:

* Memberikan contoh dalam ketertiban menetapi ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits, tertib sholat lima waktu, dan menjauhi kemaksiatan.
* Dalam kehidupan bermasyarakat dapat memberikan contoh keteladanan seperti 6 thobi’at luhur: Jujur, amanah, muzhid mujhid (hemat/sederhana dan kerja keras), rukun, kompak dan kerjasama yang baik.

1. Bagi Ro’yah (rakyat/masyarakat)

Kita harus memahami bahwa orang iman adalah sebaik-baiknya makhluk, sebaliknya orang yang tidak beriman adalah sejelek-jeleknya makhluk, sebagaimana Firman Allah:”Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab, dan orang-orang musrik (akan masuk) ke neraka jahanam dalam keadaan kekal di dalamnya, mereka adalah sejelek-jeleknya makhluk” (QS. Al-Bayinah:6).

Orang yang kaya berpangkat, pandai, penuh dengan prestasi, ganteng lagi gagah, seolah tanpa cacat, tetapi jika tidak beriman, berarti hina di sisi Allah, dan orang iman yang asalnya dari desa hitam lagi pendek, itu masih lebih baik dari pada mereka, karena orang yang tidak beriman adalah sejelek-jeleknya makhluk, sangat tidak pantas kita jadikan panutan. Jika diantara mereka ada yang jadi pejabat, dikhawatirkan tidak memikirkan kesejahteraan rakyatnya, orientasinya pada bisnis, mencari keuntungan pribadi. Orang yang beriman (orang yang dicintai Allah) jangan sekali-kali mengagumi orang-orang yang menjadi musuh Allah, Rasul dan juga musuh orang iman.

Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Hud ayat 113:” Janganlah kalian condong kepada orang-orang yang dholim, maka neraka akan menimpa kalian….”

Untuk bisa mengidolakan sosok dari kalangan muslim, maka kita harus menyadari dan memahami bahwa setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, janganlah kita hanya memandang dari sisi kekurangannya saja, akan tetapi kita harus bisa melihat seseorang itu dari kelebihan-kelebihan yang dia miliki, sehingga kita bisa mencontoh kelebihan-kelebihan yang mereka miliki, dan jika akan mengidolakan tokoh yang tiada cela yaitu mengidolakan/ mencontoh Rasulullah saw.

Allah berfirman :” Laqod kaana fii rasuulillahi uswatun hasanatun liman kaana yarjullaha walyauma al-akhirata wa dzakarolloha katsiran” (QS. Al-Ahzab:21), artinya: “Niscaya ada pada diri Rasulullah adalah contoh yang baik, bagi orang yang mengharapkan bertemu Allah dan hari akhir dan banyak ingat pada Allah”.

Demikian juga yang dijelaskan Rasulullah dalam Al-Hadits: “Sesungguhnya dijadikan imam/pemimpin itu untuk diikuti” (HR. Bukhari).

Keteladanan dalam rumah tangga sangat diperlukan, sebagai seorang suami dapat memberikan contoh di dalam rumah tangga tersebut terutama dalam pendidikan anak, karena mendidik anak dengan keteladanan, anak akan mudah mengikuti. Mendidik anak agar mau sholat, orang tuanya mencontohi, tentunya melaksankan sholat juga, jangan hanya menyuruh saja sedangkan orang tuanya tidak sholat. Perhatikan Firman Allah :

” Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian bisa mengatakan pada sesuatu yang kalian tidak melaksanakannya* Besar sekali kebencian(dosa) di sisi Allah, jika kalian bisa mengatakan pada sesuatu yang kalian tidak bisa melaksanankan” (QS. Ash-Shof: 2-3)

Demikian uraian singkat tentang keteladanan, semoga bermanfaat bagi pembaca. Alhamdulillah jaza kumullahu khoiran.

Oleh;

Ir. Amat Sarjono

Ketua DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)

Kabupaten Lahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar